PENDIDIKAN NONFORMAL DI NUSA TENGGARA TIMUR
oleh :
Abdul Hamid
Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terdiri dari kepulauan dengan penduduk tersebar dengan distribusi pendapatan yang belum merata dan struktur sosial masyarakat yang masih didominasi kelas bawah yang miskin, tentu tidak mungkin bagi Pemerintah untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada semua warga negaranya melalui pendidikan formal. Oleh karena itu, pendidikan nonformal bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi sangat penting, terutama bagi mereka yang miskin yang tinggal di daerah perbatasan, pulau terpencil, di daerah pegunungan yang relatif terisolasi, atau daerah lain yang masih terisolasi karena belum terbangunnya infrastruktur perhubungan dan sarana publik secara memadai dan/atau masyarakat yang memerlukan pelayanan pendidikan secara khusus. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Timur yang diharapkan berdampak besar pada peningkatan dan pemerataan akses pendidikan, peningkatan mutu, dan daya saing pendidikan, serta penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pendidikan. Teroboson yang selama ini dilaksanakan akan tetap diteruskan menjadi kebijakan strategis pembangunan pendidikan nonformal pada masa mendatang. Program pendidikan nonformal dan informal telah berhasil dikembangkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan cukup baik melalui program :
1. PAUD Nonformal
Program PAUD nonformal dan informal diarahkan untuk memberikan layanan pengembangan anak usia 0-6 tahun secara intensif dengan mengoptimalkan peran orang tua dan pemberdayaan peran serta masyarakat melalui program taman penitipan anak, kelompok bermain, dan satuan PAUD sejenis. Penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan PAUD bermutu yang merata antar provinsi, kabupaten, dan kota yang meliputi pemenuhan guru bermutu; penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan PAUD nonformal bermutu; pelaksanaan diklat bidang PAUD bermutu; dan penyediaan tenaga kependidikan bermutu yang merata antar kabupaten dan kota, keluasan dan kemerataan akses PAUD nonformal bermutu dan ketersediaan model pembelajaran, data dan informasi berbasis riset, dan standar mutu PAUD, serta keterlaksanaan akreditasi PAUD.
2. Pendidikan Keaksaraan
Untuk program pendidikan keaksaraan baik keaksaraan dasar yang merupakan program pemberantasan buta aksara maupun keaksaraan usaha mandiri atau menu keaksaraan lainnya yang merupakan program pemeliharaan dan peningkatan kemampuan keaksaraan. Hal ini dilakukan karena terdapat kecenderungan para kasarawan baru atau penduduk dewasa keberaksaraan rendah lainnya tidak dipergunakan secara fungsional dan berkelanjutan.
3. Pendidikan Kesetaraan
Pendidikan kesetaraan dilayani melalui program pembelajaran langsung di pusat-pusat kegiatan belajar masyarakat di setiap kecamatan, sanggar kegiatan belajar di tiap kabupaten dan kota, sekolah-sekolah minggu, dan diklat-diklat serta unit pelaksana teknis beberapa dinas/LSM, pembelajaran untuk masyarakat, program layanan jemput bola, pembentukan lumbung belajar, dan pendidikan kesetaraan online atau sering disebut sekolah maya. Penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan dasar dan menengah bermutu yang merata antar kabupaten, dan kota yang meliputi penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan Paket A, Paket B, dan Paket C bermutu serta penyediaan diklat tenaga kependidikan yang merata antar kabupaten, dan kota. Penyediaan model kurikulum dan pembelajaran, data dan informasi berbasis riset, dan standar mutu pendidikan kesetaraan, serta keterlaksanaan akreditasi pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C.
4. Pendidikan Kecakapan Hidup
Pendidikan kecakapan hidup didesain untuk warga negara usia sekolah yang putus sekolah atau tidak melanjutkan sekolah dan bagi warga usia dewasa tidak lagi sekolah yang memerlukan pemberdayaan sosial dan ekonomi.
5. Taman Bacaan Masyarakat (TBM)
Peningkatan budaya baca dilakukan melalui penyediaan bahan bacaan dan sumber informasi lain yang dapat dicapai banyak lapisan masyarakat secara mudah dan murah. Program ini diprioritaskan untuk penduduk miskin, buta aksara, pengangguran, warga tidak terampil, putus sekolah dan tidak melanjutkan sekolah, serta penduduk kurang beruntung lainnya. Langkah terobosan dalam program peningkatan budaya baca antara lain melalui pengadaan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan layanan khusus (TBM mobile) serta pengadaan mobil pintar dalam memberikan layanan di daerah perdesaan yang jauh dari TBM dan perpustakaan.
6. Pengarusutamaan Gender
Program pengarusutamaan gender (PUG) bidang pendidikan telah menghasilkan pencapaian yang signifikan. PUG bidang pendidikan pun telah menunjukkan keberhasilan dalam penurunan disparitas gender penduduk buta aksara. PUG bidang pendidikan disinergikan dengan pengembangan satuan pendidikan berwawasan gender, pengembangan keluarga berwawasan gender, peningkatan kapasitas pemangku pendidikan untuk merencanakan, mengelola, dan melakukan pengawasan anggaran berwawasan gender serta pengembangan bahan ajar, data dan sistem informasi, serta pelatihan yang responsif gender. Untuk meningkatkan penjaminan kualitas pelaksanaan keseluruhan program pendidikan nonformal telah dikembangkan model-model pendidikan nonformal yang diharapkan dapat dijadikan pegangan pendidik dan tenaga kependidikan untuk berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan nonformal yang akan datang. Di ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada UPT Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal atas kontribusi dan perannya dalam pengembangan dan ujicoba model pendidikan nonformal ini, dan berharap model ini dapat bermanfaat dan dilaksanakan sebaik-baiknya untuk meningkatkan ketercapaian program pendidikan nonformal di Nusa Tenggara Timur.

Tidak ada komentar:

Feeds

Cari Blog Ini